Tutorial Menulis Fiksi - Selling The Drama - IMedia9 - Connecting Inspiration

Breaking

Sunday, December 11, 2016

Tutorial Menulis Fiksi - Selling The Drama



Tahukah kamu, jika sebuah cerita fiksi fantasy yang disajikan dengan seting yang detil, konsep sihir yang jelimet, nama-nama yang sulit dihafal bahkan sampai dilengkapi dengan ilustrasi keren sekali pun akan menjadi sebuah cerita yang hambar jika tidak menampilkan drama?
That's right! Drama, sob, drama! Saya sendiri cukup shock sebenernya waktu pertama kali baca artikel soal ini. Kok malah drama ya? Apa hebatnya sih drama sampai-sampai elemen itu justru menjadi sebuah elemen terpenting dalam sebuah cerita fiksi fantasy. Bukan cuma cerita fantasy sih, tapi mungkin semua jenis cerita. Mau horor kek, mau romance kek, mau religi kek, terserah. Semuanya butuh drama.

High-Quality-Sad-Girls-Wallpapers

Pernah baca cerita Harry Potter? Pasti inget dong dengan bagaimana si Harry kecil kudu tinggal di bawah tangga sementara sepupunya malah enak-enakan di kamar atas? Atau Harry dimusuhi Ron karena nyangka kalao dia masukin namanya sendiri ke Piala Api dan jadi salah satu peserta Triwizard? Atau ketika Sirius Black mati. All about it is drama! Dan itulah yang membuat cerita ini keren.

Contoh lain datang dari TLOR.Kisah-kisah awal Frodo cs yang ga bisa apa-apa mesti meninggalkan Shire. Atau kisah asmara terlarang Aragorn dan Arwen. "Kematian" Gandalf yang sangat mengagetkan ketika mencoba menghalangi Balrog - si monster api. Atau pada fase-fase ketika para fellowship terpisah. Sam tetap setia mengikuti Frodo. Konflik internal dalam diri Frodo ditambah lagi Gollum yang berkepribadian ganda. Lagi-lagi it's all about drama.

So, poin penting apa yang bisa kita ambil kali ini? Try to selling the DRAMA in your story! Thats right, guy! Sebelum kita semua melangkah terlalu jauh dengan seting, sistem sihir, persenjataan, buku mantera, dan hal-hal berbau fantasy, cobalah untuk merenung barang sejenak dua jenak. Cobalah untuk memikirkan kira-kira drama seperti apa yang bisa kita tampilkan dalam cerita kita. Drama percintaan, konflik antar karakter, atau perasaan tersinggung karena sesuatu.

Hal-hal sederhana seperti itulah yang sebaiknya coba kita gali. Sekilas memang terlihat sepele. Namun jangan salah. Hal-hal sepele seperti itulah yang justru akan cerita kita akan semakin 'gurih'.
Happy writing dan sampai jumpa di postingan saya selanjutnya.

No comments:

Post a Comment